http://bit.ly/PDlogo1

Page Nav

HIDE

Grid

GRID_STYLE
FALSE
TRUE
HIDE_BLOG

Classic Header

{fbt_classic_header}

Top Ad

https://linktr.ee/allsysmedia

Info Terbaru

latest

APKPI Mendorong Penyamaan Persepsi Pengelolaan Resiko

Suatu manajemen organisasi beserta jajaran direksi mesti memiliki kesamaan persepsi dalam pengelolaan resiko jika tujuan dasarnya adalah pen...


Suatu manajemen organisasi beserta jajaran direksi mesti memiliki kesamaan persepsi dalam pengelolaan resiko jika tujuan dasarnya adalah pendekatan keselamatan pertambangan. 

Direktur Asosiasi Profesi Keselamatan Pertambangan Indonesia (APKPI) Alwahono mengutarakan hal tersebut saat temu santai praktisi keselamatan pertambangan, akademisi, pelaku bisnis yang bergerak selain pertambangan seperti minyak dan gas, perkebunan dan lainnya pada acara Safety Sharing Session batch 3 bertemakan Konsep Makro Pengelolaan Resiko yang Efektif. 

Alwahono membuka tema diskusi santai itu sebelum para pembicara memberikan materi presentasi tentang pengelolaan risiko kepada peserta. 

Pembicara-pembicara tersebut adalah Dwi Pujiarso merupakan pendiri sekaligus Direktur Utama PT Indoshe, Chandra Satrya dari Dosen K3 (Keselamatan dan Kesehatan Kerja) Universitas Indonesia dan Budiawansyah Karta dari Pjs KTT PT Vale Indonesia Tbk. Para narasumber tersebut merupakan pakar K3. 

"Topik ini sangat penting karena masih ada persepesi kita terhadap risiko masih berbeda satu sama lain. Kunci sukses mengelola keselamatan pertambangan terletak pada pengelolaan risikonya. Itu sebagai dasar pemikiran kita melakukan pengendalian segala sesuatu," kata Alwahono, Rabu (29/9/2021) malam. 

Alwahono mangatakan apabila manajemen tidak mampu mengidentifikasi dan mengelola risiko maka target keselamatan tidak sejalan. Apalagi jika keselamatan di lingkungan pertambangan yang hingga hari ini belum memiliki persamaan persepsi. 

Karena, keselamatan pertambangan memiliki 5 tujuan akhir bagi para pekerja tambang yaitu sehat, selamat, operasional tambang aman, efisien dan produktif. 

"Setelah saya melihat langsung perusahaan-perusahaan pertambangan dari Aceh hingga Papua, ternyata persepsi mengelola resiko bervariasi," ujarnya. 

Chandra Satria mengatakan K3 belum dipahami sebagai sentral sebuah pengelolaan risiko. Cenderung saat berbicara tentang pengelolaan risiko, manajemen organisasi mengulas aspek-aspek lain bukan kepada inti keselamatan. 

Dia memberikan contoh, kalau berada di hutan saat bertemu dengan singa maka untuk mengatasinnya adalah singa dimasukan ke dalam kurungan besi agar potensi mengancam manusia berkurang. 

"Mohon maaf pamahaman risiko saat ini masih dangkal. Oleh karena itu, bersama-sama dengan APKPI mari bersama-sama memperkuat pemahaman manajemen risiko," ujarnya.