http://bit.ly/PDlogo1

Page Nav

HIDE

Grid

GRID_STYLE
FALSE
TRUE
HIDE_BLOG

Classic Header

{fbt_classic_header}

Top Ad

#

Info Terbaru

latest

Air Mata Anak Tambang di Jumat Siang

Sumber Photo: www.kontan.co.id Oleh: Alwahono Lebaran tinggal 18 hari lagi. Inilah saat yang dinanti-nanti   oleh umat Islam. Apalagi bagi p...


Sumber Photo: www.kontan.co.id

Oleh: Alwahono

Lebaran tinggal 18 hari lagi. Inilah saat yang dinanti-nanti  oleh umat Islam. Apalagi bagi para pekerja tambang yang jauh dari keluarga. Demikian juga bagi AH, karyawan sebuah perusahaan tambang besar di Nusa Tenggara  yang sudah berniat pulang lebaran kali ini. Sebab tidak setiap tahun kesempatan itu terjadi.  Terbayang olehnya senyum anak dan istri tercinta menanti kepulangannya di rumah. 

 

Hari ini, matahari baru saja melewati kepala. Dari kejauhan Sebuah Haul Truck (HT) 82 melaju di jalur Selatan tanpa muatan menuju loading point. Debu-debu berterbangan bercampur udara panas yang mengambang di permukaan tanah Sumbawa yang kering.  Galur jalan tambang tembaga dan emas yang berada di bumi Nusa Tenggara yang  di kenal dengan penghasil susu kuda liar,  itu menjadi kelabu karena setiap hari bermandikan debu tanah. Mesin-mesin tambang berukuran raksasa menderu hilir-mudik siang malam tiada henti. Suaranya bergemuruh, mirip dengkur raksasa tidur.

 

Meski sudah lama di tambang, setiap kali berdiri  di point view ini saya  masih saja terkesima. Mesin-mesin raksasa itu-bergarak teratur, berjejer-jejer, menuju kesuatu tempat yang sama.  Ada truk berkapasitas 350 Ton, ada Excavator pengaruk yang sekali angkat, biasa mencedok 150 ton tanah, pasir maupun batu sekali angkat. Semua  bergerak teratur dengan kecepatan dan jarak yang sama,  mirip barisan satu battalion serdadu.

 

Tak ada yang tahu persis mengapa sebuah kendaraan raksasa itu tiba-tiba berbelok ke kiri, oleng tak terkendali. Moncong truk menabrak tanggul  dan berguling beberapa kali di bibir jurang sebelum berdentam menghantam keras lantai tanah. Kejadian itu peris menjelang tikungan di ram Selatan elevasi 105 mRL. Kedalamannya tak kurang dari 45 meter. 

 

Dentumannya membuat para karyawan lain kaget, hampir berbarengan kami menolah ke arah datangnya suara. 

 

“Astaga, itu kan HT 82 yang dikendari AH!” teriak seseorang .  

 

Darah kami tercekat. Kami segera melompat ke dalam mobil dan bergegas menuju tempat kejadian.

Seorang pengawas langsung menghubungi tim emergency melaporkan kejadian. Kendaraan lain juga segera datang bermaksud memberikan pertolongan. Tapi  apa mau dikata, nyawa AH sudah tak tertolong lagi. AH adalah karyawan perusahaan kontraktor tambang  berusia 31 yang baru 2 tahun 3 bulan ini bergabung di perusahaan ini.

 

Sekitar pukul 15.05 WITA Emergency Responsive Team (ERT) berhasil mengevakuasi AH. Tubuhnya yang terkulai dilarikan ke Klinik Buin Batu. Darah terus mengalir dari telinga sebelah kiri.  Kami mengikuti ambulan tersebut, ngebut dari belakang, dengan perasaan tak karuan. 

 

“Tuhan, Engkau yang memberi, Engkau jugalah yang berhak mengambil nyawanya,” doaku  sepanjang jalan. 

 

Kami hanya terdiam  ketika dokter yang menangani AH mengatakan nyawanya tak tertolong lagi. Di tubuh AH ditemukan memar dan trauma berat, terutama pada kepala dan leher. Tulang tengkorak kepala sebelah kiri AH retak. Lehernya pun sudah tak simetris lagi ketika ditemukan tadi.

 

Sebelum kejadian, salah seorang teman bercerita bahwa usai Jumatan, AH buru-buru berangkat dari elevasi 540 mRl-Kanloka menuju loading point di elevasi 60 mRl untuk mengambil muatan.  Lelaki periang itu sempat berkelakar dengan teman-temannya dan meledek kalau istri-istri mereka tahun ini dipastikan banyak yang cemberut  menyambut lebaran lantaran tak bisa jalan-jalan ke Mall dikarenakan pandemii Covid-19.

 

Kini tempat kejadian telah diisolasi perusahaan untuk kepentingan investigasi. KTT juga sudah melaporkan kepada Kepala Inspektur Tambang di Jakarta, bahwa pihaknya sudah melakukan safety time out.

 

 ***

 

Saya tak sanggup membayangkan bagaimana istri dan kedua anak AH yang masih kecil menerima kabar duka ini. Tak hanya seorang ayah yang berjuang mencari nafkah dan menjadi tulang punggung keluarga, AH juga  adalah idola mereka.  Tentu mereka sudah tak sabar menanti sang ayah cuti, padahal ini baru hari ke 12 puasa Ramadhan.

 

Meski pandemi dan berbagai aktivitas dibatasi oleh pemerintah, tapi istri AH telah menyiapkan kue-kue untuk lebaran nanti.  Kain corak batik tradisional untuk baju lebaran mereka pun sudah dibeli, tinggal diantar sabtu ini ke tukang jahit.  Dia tahu ini moment special bagi para suami yang bekerja di tambang. Karena mereka hanya dapat jatah pulang 2 minggu dalam tiap 3 bulan, atau sesuai jabatan.

 

Hati siapa yang tak akan remuk. Apa yang harus di katakan kepada pihak keluarga. Bagaimana menjelaskannya nanti.  Karena pasti mereka sudah menanti dengan penuh berharap kedatangan AH dengan wajah yang bahagia karena akan menyambut Idul Fitri bersama, tapi kami justru datang membawa tubuh AH yang telah terbungkus kafan.  Betapa hancur hati keluarganya saat mendengar kabar duka ini.  Membayangkan hal itu semua, tak terasa air mataku jatuh menetes..

 

Ini bukan peristiwa baru bagi saya, karena kecelakaan baik di tambang maupun di luar tambang masih selalu terjadi, tapi tetap saja aku tak kuat menahan air mata.

 

Duka keluarga AH adalah duka kita, duka para teman-teman dan rekan sejawatnya, dan duka para pekerja-pekerja tambang di Indonesia.  Sekali lagi aku hanya bisa berdoa, semoga kejadian ini tidak terluang lagi di kemudian hari..

 

Bogor, 23 April 2021